Archive for September, 2010

Membangun Kesadaran Lingkungan Sejak Dini

September 3, 2010


Oleh : R. Lelawaty Simamora

Terkadang miris hati ini melihat para orang dewasa (baca : para orang tua) membuang bungkus permen seenaknya di jalan, atau menyembunyikannya dalam got. Bahkan tak jarang, orang-orang dewasa yang dalam kacamata umum adalah berpendidikan, juga melakukan hal yang sama. Membuang sampah seenaknya, merokok di sembarang tempat, menebang pohon-pohonan pinggir jalan asal saja. AKibatnya, kondisi kota menjadi tak nyaman buat orang lain. Bahkan lama kelamaan, menjadi kota yang semrawut, dan menularkan energy negative pada orang lain. Orang-orang lain tergoda untuk berbuat seenaknya juga.

Tapi sampai kapan? Bukankah lebih enak jika kita dan keluarga kita tinggal di sebuat tempat yang nyaman, bersih, udaranya segar? Cobalah beberapa saat saja membandingkan dan merasakan perbedaan emosi Anda saat berada di tempat yang berantakan, banyak sampah, asap rokok mengepul di mana-mana….Suasana yang bersih, hijau, nyaman juga turut menumbuhkan keramahan pada orang-orang.

Sekarang bagaimana kita membangun masyarakat yang peduli dengan kebersihan lingkungan dan kenyamanan tempat kita tinggal. Mereka di atas adalah orang-orang dewasa yang kemungkinan pada masa kanak-kanaknya tidak dilatih untuk peduli. Buat kita yang peduli, dan ingin hidup dalam suasana kota yang ramah, bersih lagi nyaman, apalagi memiliki anak-anak, inilah saat yang tempat untuk membangun tanggung jawab terhadap lingkungan pada anak-anak kita. Kita semua tau bahwa, saat dini usia adalah saat-saat yang ideal untuk menanamkan pemahaman-pemahaman tentang apapun pada anak-anak sebagai fondasi mereka kelak. Golden Age katanya.

Sekarang ayolah kita bangun fondasi kesadaran lingkungan anak-anak kita sejak dini. Bagaimana caranya. Tidaklah sulit. Nilai-nilai itu bisa kita kenalkan dalam keseharian aktivitas kita dan anak-anak di rumah atau di sekolah, atau bahkan saat bermain dengan teman-temannya.

  1. Pada saat mandi. Kadangkala saat mandi juga adalah saat-saat bermain dan berinteraksi bagi kita dan anak-anak kita. Nah saat kita mendorong mereka untuk menjaga kebersihan tubuh dengan menggunakan sabun atau sampo, sering kita mendapati anak-anak menggunakan sabun atau sampo terlalu banyak, dan juga air terlalu banyak. Di sini kita bisa mulai masuk memberikan pemahaman kepada mereka bahwa air yang terlalu banyak plus sampo atau sabun yang berlebihan itu nantinya akan menjadi air limbah (limbah cair). Limbah ini nanti akan masuk ke tanah lagi, atau ke selokan dan sungai. Dan kandungan sabunnya bisa mengganggu tanah, mengganggu persedian air sumur, atau mengganggu kehidupan ikan-ikan dan tumbuhan di sungai. Dst. Masalah bahasa, tentulah para orang tua lebih paham, memilih kata-kata yang tepat. Tapi, hindari melarang begitu saja, tanpa menjelaskan apa maksudnya. Anak-anak, dengan wajah bingungnya mungkin, tapi sesungguhnya mereka sedang mencerna informasi yang baru saja disampaikan. Masalah penghematan air juga bisa kita kenalkan dari aktivitas mandi ini. Sampaikan bahwa cadangan air tawar di bumi kita ini sangat sedikit sekali, sehingga hatrus kita gunakan sebaik-baiknya. Karena kalau tidak, kita juga yang nanti akan kekurangan air untuk minum, mandi, dll.
  2. Saat bermain di luar rumah. Kesukaan anak-anak tentu bermain di luar rumah, main petak umpet bersembunyi di balik pohon, atau sekedar berteduh dan bercengkrama di bawah rindangnya pohon di taman kota misalnya. Nah, momen ini adalah kesempatan bagi kita untuk mejelaskan kepada anak-anak bahwa betapa agungnya Sang Pencipta, yang telah menciptakan pohon sedemikian ruapa, yang senantiasa menyemburkan Oksigen untuk kesegaran pernapasan kita dan udara kota, serta betapa dedaunannya telah menghalau sebagian cahaya matahari yang terlalu terik agar kita nyaman bermain di antaranya. Belum lagi pohon-pohon yang memiliki bunga dan buah, yang telah menjadi tempat yang menyenangkan bagi kupu-kupu dan burung-burung. Sehingga kehidupan kota atau tempat tinggal kita semakin semarak. Boleh juga kita menceritakan pengalaman negeri tetangga yang begitu menghargai setiap pohon yang tumbuh di kotanya, karena mereka senang jika burung-burung datang berkunjung. Hijauan daun juga menyejukkan setiap mata yang melihatnya. Kita bisa mulai memotivasi mereka untuk turut memelihara tanaman dan pepohonan di rumah atau di taman kota, atau bahkan mengajak mereka untuk mengundang kupu-kupu dan burung di rumah, dengan cara menanam pohon. Pada momen-momen yang berikutnya, kita bisa juga menjelaskan bahwa dedaunan yang rontok dari pohon, dapat pula menjadi pupuk, alias tidak ada yang sia-sia.
  3. Saat jalan-jalan. Kadangkala kita melewati sungai atau pantai atau danau yang mungkin banyak  sampahnya. Kita bisa mulai menceritakan bahwa bisa saja di antara sampah-sampah tadi adalah sampah-sampah kita. Atau mungkin sampah teman-teman si anak di sekolah. Sampah-sampah tadi bisa berasal dari tempat yang jauh kemudian terhanyut oleh hujan sampai ke sungai. Akibatnya sungai-sungai menjadi bau, kotor, ikan-ikan kebingungan  diserbu sampah, tak bisa lari dan akhirnya mati. Sungai-sungai yang tidak ada kehidupan di dalamnya, maka akan berubah menjadi selokan yang hanya berisi air kotor. Padahal tak jarang di antara sungai-sungai tersebut merupakan sumber air bersih bagi banyak penduduk di sekitarnya. Jangan heran, sungai-sungai juga terhubung ke laut, sehingga, sampah yang di sungai akan sampai ke laut. Nah, pemandangan bawah laut yang indah, apalagi bagi keluarga yang punya hobi bermain di laut dan snorkling, bisa berubah menjadi suram. Karang-karang akan mati. Ikan akan semakin berkurang.
  4. Saat menggambar dan mewarnai. Ini adalah aktivitas yang mungkin setiap orang tua hampir pasti menyediakan fasilitasnya di rumah. Saat mereka menggambar ruangan rumah atau sekolah, coba tanyakan, “Dik, tempat sampahnya mana?” atau saat mereka menggambar pemandangan dan sungai, “Eh, pohonnya di sebelah mana ya..?” Sambil kita jelaskan, manfaat-manfaat tempat sampah atau pohon itu bagi kehidupan kita. Ajak pula mereka untuk memanfaatkan kertas –kertas kemasan, bekas2 print out kantor anda mungkin, untuk masih dimanfaatkan untuk menggambar. Ini bermanfaat melatih anak-anak untuk seoptimal mungkin menggunakan barang dan memanfaatkan barang-barang bekas yang masih bisa digunakan.

Intinya proses penanaman nilai-nilai kesadaran lingkungan harus kita tanamkan sejak dini. Bahkan sejak anak-anak itu masih 0 tahun. Banyak sekali anak-anak 8 bulanan sampai balita, sudah terampil membuang sampah pada tempatnya.

Berbagai pemahaman di atas tentu saja tidak mungkin kita sampaikan sekaligus dalam waktu singkat. Ingat, kegembiraan anak saat kita berbagi informasi soal itu, harus kita jaga. Yang jelas sejak dini kita harus terbiasa membangun cerita-cerita dan interaksi terkait dengan keterampilan menjaga lingkungan kepada anak-anak kita. Agar kelak mereka tidak menjadi orang-orang dewasa yang menyebalkan, berpendidikan tetapi tak tertib bermasyarakat.

Iklan